Biopori, Cara Mudah Suburkan Tanah

Setelah proyek sumur resapan saya selesai, saya kembali memikirkan taman depan rumah saya yang tanahnya juga semakin memadat. Selain itu, kebutuhan akan kompos untuk sayuran dan tanaman lainnya di dalam pot ternyata cukup menguras dompet juga bila harus rutin membeli. Saya pun mencoba cari solusi.

Setelah googling dan browsing sana-sini, saya pun terdampar ke situs www.biopori.com. Silakan mampir ke situs untuk melihat lebih detail mengenai ini. Yang jelas setelah mampir ke .com, saya pun langsung berusaha membeli tongkat bor ini.

Tadinya saya mau beli tongkatnya langsung ke Biopori.com. Akan tetapi ketika saya sedang belanja ke Lotte Whole Sale Ciputat, tongkat biopori terlihat oleh saya di rak peralatan tukang di Lotte. Ahaay! Jadi tak perlu menunggu deh, langsung beli!

Tongkat bor biopori yang terlihat pada gambar di atas, adalah tongkat biopori yang saya beli di Lotte Whole sale Ciputat.

Tapi ternyata oh ternyata, tidak semudah yang saya pikirkan. Ternyata susaaah sekali membuat lubang di taman saya dengan tongkat biopori ini. Keras broo! Saya tahu sih memang tanah taman saya sudah terlalu padat dan keras, tapi saya pikir tongkat biopori bisa mengatasi masalah saya. Wah wah saya akhirnya menyerah dan garuk-garuk kepala, kenapaa oh kenapaaa saya tidak bisa menggunakan tongkat biopori ini yaa???

Sempat berbulan-bulan tongkat biopori itu hanya terletak tanpa digunakan. Dan pencerahan pun datang ketika musim hujan tiba. Air yang turun terus menerus membuat taman saya dalam kondisi basah terus menerus. Saya terpikir untuk mencoba membuat lubang biopori lagi karena tanah terlihat lembek. Dan …. berhasil! berhasil! HORE!

Tampaknya lubang biopori memang harus dibuat di tanah yang basah dan lembek. Karena memang tanah di taman saya sudah cukup padat – nyaris seperti tanah liat, harus disiram air dulu supaya bisa basah. Ketika tanah sudah basah, mata bor biopori dapat dengan mudah membuat lubang. Tanah yang berkumpul di ujung mata bor biopori tinggal diangkat dan disingkirkan, lalu bornya dimasukkan lagi trus dibor sampai kedalaman yang diinginkan. Bisa sampai satu meter kedalamannya.

Setelah lubang biopori dibuat, saya memasukkan sampah-sampah organik yaitu: daun-daun kering yang jatuh dari pohon atau tanaman saya, sisa sayuran (sayuran segar yang belum dimasak), dan sisa buah (kulit dan biji) dari dapur. Semua sampah tersebut dimasukkan sepadat mungkin ke dalam lubang biopori. Beberapa lubang biopori saya tutup lagi dengan tanah dan ditutup lagi dengan rumput. Untuk lubang biopori yang ingin saya ambil komposnya, saya tempatkan terpisah dan tidak ditutup dengan tanah dan rumput lagi.

Dan akhirnya saya pun bisa tersenyum lebar karena biopori ini memang nyata manfaatnya. Tanah taman menjadi subur, air hujan cepat terserap dan dapat bonus pupuk kompos untuk kebun sayur mini saya! 🙂

Tips ini sudah dibaca 11325 kali