Tips Agar Sampah Organik Cepat Jadi Kompos

Apakah kamu kesal karena sampah organikmu lama sekali berubah menjadi kompos? Alih-alih jadi kompos, tumpukan sampah itu sekarang malah jadi becek, dan dikerubuti belatung banyak sekali. Kok kalau lihat postingan di media sosial orang-orang, komposnya bisa cepat jadi dan kering tanpa bau dan becek?

Jangan khawatir, masih banyak teman kamu yang mengalami hal seperti ini. Karena itu coba kamu perhatikan hal-hal penting di bawah ini untuk memastikan kompos kamu bisa lebih cepat jadi.

Langkah Mempercepat Proses Pengomposan

Pertama-tama yang harus kamu perhatian agar komposmu cepat jadi adalah sebagai berikut:

1. Perhatikan komposisi bahan organik untuk kompos.

Komposisi bahan organik harus terdiri dari bahan Carbon dan bahan Nitrogen yang seimbang, atau lazim disebut bahan hijau dan bahan coklat. Atau sederhananya bahan basah dan bahan kering. Kalau bahan keringnya kurang, maka bisa dipastikan kompos akan terlalu basah dan becek.

Bila kompos basah dan becek, maka tambahkan bahan kering yaitu daun kering yang benar-benar kering, sekam mentah, dedak, bekas kardus coklat dan kertas koran. Khusus untuk kertas majalah yang terlihat mengkilap sebaiknya tidak dimasukkan ke komposter karena kertas yang ada lapisan mengkilap itu tidak bisa terurai di tanah.

Selain air yang berasal dari bahan basah, proses penguraian sampah organik itu pun melepaskan suhu panas yang membuat terjadi pengembunan. Kalau kompostermu model yang ada tutupnya, coba perhatikan tiap kali buka tutup, bagian atasnya akan terlihat banyak embun dari proses penguapan di dalam komposter.

2. Semakin banyak hewan pengurai maka kompos akan semakin cepat jadi.

Makhluk pengurai sampah organik itu ada dua jenis, yaitu yang kasat mata dan yang tidak kasat mata. Yang kasat mata itu seperti cacing, magot atau belatung, kaki seribu dll. Yang tidak kasat maka ini berupa bakteri dan jamur. Nah kalau kamu tidak mengandalkan kaum cacing dan magot untuk memproses sampah menjadi kompos, maka kamu bergantung kepada kaum pengurai tak kasat mata alias para mikroorganisma bakteri dan jamur.

Kaum pengurai tak kasat mata ini harus dalam jumlah yang cukup banyak supaya kompos bisa cepat jadi. Cara memperbanyaknya bisa dengan membuat larutan MOL atau Mikro Organisma Lokal atau gampangnya bisa beli jadi di toko pertanian, namanya EM singkatan dari Effective Microorganisma. Semakin banyak dan aktif si pengurai, maka sampah organik juga akan lebih cepat terurai.

EM ini isinya bakteri pengurai yang dalam kondisi tidak aktif. Karena itu jangan lupa larutan EM ini harus diaktifkan dulu mikrobanya dengan memberikan gula merah atau molase. Ada yang mengatakan pakai gula pasir juga bisa. Mungkin bisa tapi sebaiknya tetap gunakan yang alami karena gula pasir itu sifatnya bisa menghambat pertumbuhan bakteri dan jamur. Dan dalam hal ini kita tidak ingin menghambat pertumbuhan bakteri dan jamur bukan?

3. Jangan biarkan sampah organik untuk kompos menjadi kering.

Sampah yang akan dijadikan kompos tidak pula boleh menjadi kering. Kenapa? Karena kaum pengurai butuh suasana lembab untuk mereka bisa bekerja dengan baik. Tak heran tempat-tempat lembab di rumahmu gampang sekali tumbuh jamur kan?

Cara melembabkan sampah organik ini bisa dengan menyemprotkan air biasa atau lebih baik lagi bila menggunakan tiap kali kamu mau masak nasi. Air cucian beras mengandung gula dari beras yang bisa mengaktifkan si pengurai tidak kasat mata.

Selain air cucian beras, air juga bagus. Kalau kebetulan punya air kelapa yang lupa diminum, walaupun diletakkan di dalam kulkas, biasanya sudah mulai terasa ada rasa-rasa alkoholnya tuh. Hal ini terjadi karena air kelapa mulai terfermentasi. Nah jangan dibuang, siram saja ke dalam kompostermu ya karena air kelapa mengandung banyak mikroba baik yang bisa membantu proses pengomposan.

4. Cacah sampah organik menjadi berukuran kecil.

Sampah yang sudah dicacah kecil-kecl akan sangat cepat terurai dibandingkan sampah organik yang dibiarkan utuh. Ingat, yang akan menguraikan sampah organik ini hewan-hewan kecil dan mikroba, maka bantu kerja mereka lebih cepat dengan mencacah sampah menjadi sekecil mungkin.

5. Sampah yang sedang berproses menjadi kompos harus terasa hangat.

Ini harus terjadi. Kalau kamu tidak bisa merasakan suhu hangat ini bisa jadi mikroorganisma yang di dalam komposter tidak aktif atau jumlahnya kurang banyak. Kalau setelah seminggu kamu rasakan sampahmu terasa dingin-dingin saja, maka kamu harus cek apakah kondisinya terlalu basah atau terlalu kering. Kalau basah, kamu segera tambahkan bahan kering, kalau kering maka kamu lembabkan. Dan semprotkan lagi larutan MOL atau EM untuk memperbanyak mikroorganisma ini.

6. Bolak balik sampahmu.

Ketika sampah sudah terasa hangat, maka hal selanjutnya yang kamu lakukan adalah membalik-balik sampah agar oksigen bisa masuk ke seluruh bagian sampah. Ingat loh metode kompos yang kamu lakukan ini adalah metode aerob, yaitu metode kompos yang membutuhkan udara atau oksigen. Bila kekurangan oksigen, maka para kaum pengurai bisa-bisa kehabisan napas dan akhirnya mereka menjadi tidak aktif. Kamu bantu mereka bangkit lagi dengan membalik-balik sampah ya.

Ciri-ciri Kompos yang sudah jadi

Nah bila 6 langkah ini kamu lakukan dengan konsisten, maka paling lambat satu bulan komposmu sudah matang.
Ohya bagaimana kamu tahu bahwa komposmu sudah matang? Ini dia ciri-ciri kompos yang sudah jadi atau sudah matang :

  1. Kompos tidak lagi berbau sampah, melainkan berbau seperti tanah biasa.
  2. Penampakan kompos pun sudah berwarna hitam seperti tanah. Teksturnya bisa halus atau pun masih bergumpal-gumpal tergantung bahan apa saja yang digunakan dan apakah dicacah atau tidak.
  3. Suhu kompos sudah dingin. Kompos yang masih terasa hangat berarti masih terjadi aktivitas penguraian dan sebaiknya dibiarkan dulu sampai mereka menyelesaikan pekerjaan mereka terlebih dahulu.

Nah bila komposmu sudah matang, sebenarnya sudah bisa langsung digunakan untuk tanamanmu. Tapi kalau komposmu sudah matang tapi terlihat masih banyak bahan organik yang berukuran agak besar, maka kamu bisa ayak komposmu supaya didapat kompos yang berbutir halus dan siap tabur.

Kompos yang sudah jadi namun masih berukuran agak besar ini bisa kamu campurkan lagi ke dalam tumpukan sampah organik yang akan diproses lagi selanjutnya untuk menjadi kompos. Pencampuran kompos ini ke sampah organik yang baru akan mempercepat proses pengomposan juga.

Pertanyaan berikutnya adalah …

Apakah bisa membuat kompos tanpa harus menyiapkan Larutan EM ? Atau tanpa harus membuat MOL atau mikro organisma lokal?

Jawabannya sebenarnya bisa saja. Di alam pun tidak ada yang membuat larutan EM karena sebenarnya mikroorganisma yang dibutuhkan untuk mengurai bahan organik menjadi kompos sudah ada di alam. Mereka ada di tumpukan bahan organik sisa dapurmu, dan mereka juga ada di udara yang lembab. Itu sebabnya makanan kalau diletakkan diluar tanpa ditutup rapat akan cepat basi.

Jenis Larutan EM Sesuai Dengan Fungsinya | image: EMindonesia.com

Lalu kenapa kita mesti repot beli larutan EM ini atau bikin MOL ?

Emmh ya itu kan karena kita sendiri yang pengen cepat-cepat lihat sampah organik kita menjadi kompos.

Ya kan?

So semakin banyak mikro organisma pengurai di tumpukan bahan organik kita dan semakin aktif mereka bekerja maka semakin cepat pula sampah organik kita menjadi kompos.

Bagaimana supaya kompos tidak ada belatungnya?

Cara membuat kompos seperti di atas ini disebut dengan metode Aerob, dia membutuhkan udara dalam prosesnya. Karena itu komposter untuk metode Aerob ini ada lubang-lubangnya, dan biasanya akan ada magot atau belatung karena bisa masuk menitipkan telur-telurnya. Kalau kamu gak geli sama belatung atau magot sih, ya biarin aja karena mereka juga sangat berperan dalam proses penguraian sampah. Ntar juga belatungnya mati karena suhu panas di dalam komposter. Kalau kamu punya atau ikan, bisa berikan magot sebagai makanan berprotein tinggi untuk mereka.

Tapi kalau kamu gak suka lihat magot uget-uget dalam kompostermu, maka kamu mesti siapkan sekam mentah atau tanah atau apapun bahan kering yang ada dalam jumlah yang cukup banyak. Tiap kali kamu memasukkan sampah organik yang basah dan disukai oleh belatung, maka kamu harus tutup bagian atasnya dengan bahan kering rapat-rapat sehingga tidak terlihat lagi bahan basahnya. gak akan bertelur di bahan kering sih, dia cari tempat bertelur yang dianggapnya memiliki cukup bahan makanan untuk anak-anaknya saat menetas jadi belatung.

Tetap semangat bikin komposnya ya!

Cek Yang Ini:

You Might Also Like

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.