Cara Memilih Media Tanam Yang Tepat Untuk Tanaman

Bunda, bagi kita yang suka berkebun, pasti memahami bahwa bagi tanaman, memliki banyak peran. Media tanam merupakan tempat bertumpu agar tanaman bisa berdiri tegak. Zat yang terkandung didalamnya adalah hara, air, dan udara yang dibutuhkan oleh tanaman. 

Tiap jenis memiliki kemampuan menyimpan hara, air, dan udara yang berlainan. Tanaman juga memiliki aturan yang sama, yaitu tiap jenis tanaman membutuhkan persyaratan hidup yang berbeda.

Untuk memahami lebih jauh mengenai hal ini, berikut 9 Kiat Memilih Media Tanam.

Pertama, Mengenal jenis dan sifat

Ada banyak jenis yang bisa dibeli. Tiap jenis memiliki bentuk, ukuran dan sifat yang berlainan. Media tanam yang berbentuk serpihan mampu menyimpan air lebih lama dan dalam jumlah banyak. Contohnya humus bambu. Sebaliknya, media tanam berbentuk silindris dan bulat bersifat mudah melepas air, semisal akar pakis dan coco fiber.

Ada juga yang berbentuk bulat diantaranya pasir malang dan tanah. Perlu diingat, butiran menentukan kemampuan benda tersebut menyimpan air; semakin kecil diameternya, kian besar kemampuannya menyimpan air.

Kedua, Sesuaikan dengan jenis tanaman

Sebagaimana kita tahu, tiap jenis tanaman membutuhkan jenis berlainan. Tanaman penghuni daerah kering seperti Kaktus , Adenium , Euphorbia , dan Pachipodium sebaiknya ditanam menggunakan media tanam yang bersifat porus dan mudah membuang air. Tanaman seperti itu dicirikan oleh jumlah daun sedikit dan berukuran kecil.

Namun, jenis tanaman sebaliknya yang menyukai kondisi lembap harus ditanam menggunakan media tanam yang menyimpan air secara baik. Ciri flora ini memiliki ukuran daun yang lebar, seperti Aglaonema, Philodendron, dan Anthurium.

Ketiga, Perhatikan kondisi lingkungan

Pemilihan media tanam harus disesuaikan dengan keadaan lingkungan. Bila cuaca di tempat kita berhawa panas dan kering, pilih jenis media tanam yang memiliki kemampuan menyimpan air yang kuat. Sebaliknya, bila kondisi cuaca tempat tinggal sering berkabut dan lembap, pilih media tanam yang porus. Sebab, porus mudah mengalirkan air, agar sistem perakaran tidak terlalu lembap dan menjadi busuk.

Keempat, Kenali pertumbuhan tanaman

Umumnya tanaman muda dalam persemaian belum butuh pasokan hara dari luar, sebab dia masih memiliki cadangan makanan. Maka, tanaman cukup menggunakan pasir malang, akar pakis atau coco peat sebagai media tanam. Media tanam dengan campuran yang kaya zat hara baru disuguhkan setelah daun lembaga telah gugur atau setelah daun asli yang pertama telah tumbuh.

Kelima, Indoor vs outdoor

Ada perbedaan juga untuk tanaman di dalam atau tanaman diluar ruangan. Tanaman outdoor butuh pasokan air lebih banyak daripada tanaman indoor. Sebab, tanaman outdoor proses fotosintesanya lebih cepat dibanding tanaman indoor.

Tiupan angin dan intensitas matahari di luar ruangan juga membuat laju penguapan lebih cepat dibandingkan dengan di dalam ruangan. Dengan demikian, tanaman outdoor sebaiknya di tanam memakai media tanam yang mampu menyimpan air dalam jumlah banyak dan waktu lama.

Keenam, Sesuai dengan jenis

plastik memiliki pori lebih sedikit dibandingkan dengan pot gerabah, karenanya pot plastik mampu menahan kelembapan media tanam lebih baik dari pot gerabah. Namun, jumlah pori-pori sedikit itu membuat aerasi di dalam pot plastik tidak sebaik aerasi dalam pot gerabah.

Karena itu, bila memilih plastik, disarankan media tanam yang digunakan adalah jenis yang mudah mengalirkan air dan porus. Sebaliknhya, media tanam untuk pot gerabah dipilih yang memiliki kemampuan menyimpan air dalam waktu lama.

Ketujuh, Pertimbangkan potensi penyakit

Media tanam yang telah dicampur kandang atau mengandung hara biasanya lebih mudah mengundang bibit penyakit. Campuran media tanam dengan pupuk kandang paling rawan mengundang bibit penyakit penyebab busuk akar. Media tanam tersebut cocok digunakan untuk menanam jenis tanaman yang menyukai kondisi kering. Misal Adenium, Pachipodium, dan Euphorbia.

Kedelapan, Usia pakai

Jangan lupa pertimbangkan pula usia pakai. Media tanam bertekstur lunak dan mengandung hara lebih mudah melapuk dan terurai. Sebaliknya, media tanam bertekstur keras umumnya bersifat awet.

Contoh media tanam berusia pendek adalah humus bambu, humus kaliandra dan coco peat, sedang media tanam berusia panjang diantaranya akar pakis dan sekam padi. Bila menggunakan media tanam berumur pendek, maka kita harus lebih rajin melakukan repotting dibandingkan dengan memakai media tanam berumur panjang.

Sebagai catatan, repotting merupakan pemindahan tanaman dari wadah yang lama ke wadah yang baru yang muatannya lebih besar lagi. Hal ini biasanya dilakukan agar tanaman mendapatkan wadah yang lebih besar untuk tumbuh kembangnya atau sebab lain semisal media tanamnya telah habis usia pakainya.

Kesembilan, Sintetis atau alami

Terakhir, media sintetis. Media tanam seperti ini bersifat lebih bersih dan bebas kuman dibandingkan dengan media tanam alami. Contoh media sintetis adalah media gel. Benda ini banyak diterapkan dalam sistem hidroponik.

Namun, harga media tanam sintetik tentu lebih mahal bila dibanding dengan media tanam alami dan kita harus rajin menambahkan larutan hara dengan dosis tepat dalam media tanam ini.

Hola, ternyata cukup banyak hal yang harus kita pelajari untuk masalah ini ya. Selamat memilih Bunda 🙂

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.